Kamis, 18 Februari 2010
Nuansa
Kami masih ada…
Di antara lilitan yang tak akan mungkin lagi lurus
Peliknya pedih, tangis dan tumpukan dosa-dosa
Racun yang terus mmembisa cepat
Tolakkan arus asa yang sedikit mengalir
Kami tetap ada…
Di dalam kotornya lintasan keterpurukan hati
Di atas keraguan yang tertulis jelas
Terlepas dari naungan keharmonisan
Terpatah-patah retak dan terbiarkan
Kami terus ada…
Kerapkan dan satukan kekuatan yang terbuang
Lambungkan identitas hati sebenar-benarnya
Sampul kembali harapan yang bernilai
Ciptakan kerangka dan rongga-rongga kejayaan
Kami masih, tetap dan terus ada!
Gotentea, Mei ‘03
Satu Kenangan
Satu kenangan telah menjerat
Terbentur suatu kekuatan dahsyat
Kami terpisah dan tak mungkin lagi erat
Keegoisan hati yang terlindung adat
Separuh jiwa diberikan tulus tersirat
Satu kenangan…
Apakah yang telah kita lakukan salah?
Wahai pemisah sang perubah arah
Faktor aku, atau keegoisanmu-kah?
Kami tercipta, bersatu, lalu kau ubah
Keserakahan kau jadikan suatu nafkah
Satu kenangan…
Andai aku tidak dapat bertahan
Kucoba hantam, enyahkan dan lawan
Nafsumu yang telah dijadikan alasan
Tapi aku masih sehat akal dan pikiran
Biarlah…mimpi burukku jadi satu kenangan
-Gotentea, Mei 2003-
Aku Tentangmu
Kau mengatakan bahwa aku mencintaimu karena Alloh.
Kau mengatakan bahwa janganlah aku meninggalkan atau melalaikan sholat.
Kau mengatakan bahwa kau suka laki-laki bermuka dan berambut basah karena basuhan air wudhu.
Kau mengatakan bahwa aku mencintaimu dengan segala kelebihan dan kekurangan.
Kau mengatakan bahwa hidup ini sudah ada yang mengatur.
Kau mengatakan bahwa Alloh menjadikan sesuatu indah pada waktunya.
Kau mengatakan bahwa segala sesuatunya akan ada jawabnya.
Kau mengatakan bahwa cinta yang sempit adalah awalnya terbakar dan akhirnya terbunuh.
Kau mengatakan bahwa kau suka seseorang yang bisa menjadi sosok ayah, kakak, kekasih dan sahabat.
Kau mengatakan bahwa cinta itu tidak akan di sadari kedalamannya sampai perpisahan tiba.
Kau mengatakan bahwa telah pasti datangnya ketetapan Alloh, maka janganlah meminta agar di segerakan (datang)nya.
Kau mengatakan bahwa belum perlu memberitahukan sesuatu yang belum pasti endingnya,
Kau mengatakan bahwa dalam hidup hanya ada dua sikap, bersyukur dan bersabar.
Kau mengatakan bahwa Alloh adalah sebaik-baiknya penjaga.
Kau mengatakan bahwa aku bisa membuatmu tertawa bahagia dan merasa dirimu selalu ada.
Kau mengatakan bahwa aku bisa membuat hatimu hangat kembali.
Kau mengatakan bahwa kamu kangen suasana sholat berjamaah denganku.
Kau mengatakan bahwa kita hanyalah seorang player di skenarionya Alloh
Kau mengatakan bahwa aku di cintai karena aku mencintai.
Kau mengatakan bahwa aku mempunyai kharisma wibawa kuat dari profilnya baik wajah dan tubuh ketika tidak banyak tertawa dan bisa menjaga posisi badan ketika duduk dan berdiri.
Kau mengatakan bahwa aku mempunyai tanggung jawab terhadap sebuah kewajiban.
Kau mengatakan bahwa aku mempunyai warna suara yang enak didengar.
Kau mengatakan bahwa aku pintar mengungkapkan perasaan.
Kau mengatakan bahwa aku sangat pandai menjaga perasaan orang lain dan sensitive.
Kau mengatakan bahwa aku mempunyai rambut dan warna kulit sehat dan badan sehat.
Tetapi
Kau juga mengatakan bahwa aku kurang mempunyai pendirian yang kuat dan mudah bimbang.
Kau juga mengatakan bahwa aku kurang memahami bahasa perasaan.
Kau juga mengatakan bahwa aku kurang percaya diri.
Kau juga mengatakan bahwa aku mempunyai emosi yang tidak tabil.
Dan sekarang kau juga mengatakan bahwa kau merasa semakin jauh dariku, berbeda dari dului ketika harapan itu sangat besar.
Dan sekarang kau juga mengatakan bahwa semakin tidak yakin apakah harapan itu bisa ada atau tudak.
Dan sekrang kau juga mengatakan bahwa semua konsep cintamu sudah berubah seiring datangnya ketidakcocokan menghampiri.
Maafkan dan terima kasih untuk semuanya telah sempat memberi kesempatan aku untuk mengenalmu.
mengenang tentangmu untuk di lupakan, terima kasih untuk semuanya.
-banjar 18 februari 2010-
ringkasan pena
satu persatu sahabat2mu pergi..
tapi sahabat sejati selalu dampingi..
sepatutnya hargailah para pemilik sahabat sejati..
ketika panca inderamu tertutup, gunakanlah mata hatimu untuk peka..
ketika mata hatimu tertutup, yakinlah bahwa itu bukan anda..
dan matahari pun tetap berpijar tanpa aku..
bulan pun tetap bersinar tanpa aku..
dan kau pun tetap bisa tersiar tanpa aku..
kebahagianku adalah melihat kau bahagia..
keberhasilanku adalah melihat kau berhasil..
keinginanku mlhat smua itu walau tanpaku..
ku titipkan nama balqis untukmu..
karena balqis adalah kemenangan..
ku sadurkan selalu doa untukmu..
karena balqis adalah kenangan..
cintaku melambai jejakkan usai..
cintaku larut tingglkan kalut..
cintaku terang biarkannya terbang..
temukanlah cintamu..
cintaku terlepas karena saking cintanya..
cintaku ikhlas dan tulus karena cintanya..
cintaku ucapkan terima kasih akan cinta-cintanya..
cintaku lepas mencari kasihnya..
cintaku hinggap di yakininya..
cintaku terbang pilih gantinya..
cintaku untuk dirinya..
cintaku terbentur adat..
cintaku telah terbagi sekat..
cintaku tak lagi tersirat dan tersurat..
cintaku ukir jadi sahabat..
terima kasih atas cinta-cintamu..
kelak bahagia kan damaikan hatimu..
-banjar, 18 februari 2010-
Sabtu, 13 Februari 2010
Kepak Sayap Anak Manusia
KEPAK SAYAP ANAK MANUSIA
Malaikat menjaring cahaya suci bermandikan aroma surgawi
Kibaskan serta merta serakan butir-butir keserakahan
Benarkah berat hati yang mulia teramat mulia?
Ataukah keakuan yang tertanam akan tumbuh kesempurnaan?
Pernik terpercik di ambang keangkuhan dan harapan
Kasih tersendat padat di loncengi teriak-teriak yang teramat getir
Kepak sayap penantian nyata berkahi kalimat manusiawi
Bakar amarah yang tertancap dengan senyum-senyum keikhlasan
Lintang khatulistiwa sertakan semilir cemas yang menghambur
Mohonlah…wahai anak-anak manusia
Kejarlah puing-puing keemasan itu
Berharap malaikatmu menjaringmu dengan cahaya suci alam surgawi
Yakinlah…wahai anak-anak manusia
Kau tercipta untuk-Nya dan kembali pada-Nya
Keagungan dunia berbuah kemuliaan di sisi-Nya
Limpahan
LIMPAHAN
Ku melihat pancaran aroma batin menangis dan tertawa
Melingkar kelilingi putaran-putaran yang tak berujung
Mental yang mental terjal kesal dan mungkin kumal
Ketuk mengiring deras keras hempas bebas lampaui batas
Kikirku terukir berbutir-butir kuak petir hampir bersisir
Berpadu tangan angan jangan berangan-angan khayalan
Pikirku kaku baku beku berliku-liku waktu teraku
Lalui hakikat erat terjerat tak bersilat kilat adat merapat
Cobakan banting denting-denting puing ranting terpenting
Mendengar acuan-acuan tersedak agar ku tersadar lentang
Ku tangkap samar-samar pengharapan ku buat nyata bernyawa
Gotentea, 18-11-2004
Pergilah Peluh
PERGILAH PELUH
Aku bergumam: “Apakah aku ini berarti, bumiku?”
Tiada jelas aku bersangkar di fananya arti hidup
Kudengar sekelilingku menyapaku dan coba menarikku
Terbang dan terus terbang diri ini di ambang ragu
Aku tahu betapa sulitnya batas yang ingin ku tembus
Betapa rapuhnya asa kuatku yang aku banggakan
Pedih…
Sedih…
Sekuat itukah aku?
Malu rasanya aku bersanding dengan peluhku
Mengiring, mengikat erat, tak sudi terbangkan raga
Letih membalut aura landasan cita nan agung
Ciut…
Ataukah pengecut?
Jangan sebut aku dengan hal itu
Masih banyak dan banyak aura yang tersimpan
Terbakar amarah kucilan dan celaan sekitarku
Dengarlah…
Lihatlah…
Siapa aku sebenarnya ini…wahai suara-suara sumbang
Aku akan buktikan semua itu…pasti!
Gotentea, September ‘03