Suatu ketika Rosululloh sedang berbicara dengan sahabatnya. Tidak seberapa lama Rosululloh melihat ada seorang “sifulan” yang sedang berlari seperti mencari tempat untuk bersembunyi dari orang-orang yang mungkin sedang mengejarnya. Setelah “sifulan” tersebut sudah tidak terlihat lagi, tidak berapa lama datang sekelompok orang yang sepertinya sedang mengejar dan mencari seseorang. Rosululloh sudah beranggapan bahwa sekelompok orang tersebut akan mencari atau bahkan “berbuat sesuatu” kepada “sifulan” tadi.
Salah seorang dari sekelompok tersebut menghampiri Rosululloh dan bertanya, “Wahai kafilah, apakah anda melihat orang yang melintas di daerah sini?” Setelah melangkahkan kedua kakinya sedikit, Rosululloh menjawab, “Semenjak saya berdiri di sini, saya tidak melihat seorangpun yang melintas di daerah sini.” Kemudian sekelompok orang itupun kemudian pergi meninggalkan Rosululloh.
Kisah tersebut memang benar-benar terjadi dan di lakukan oleh Rosululloh. Rosululloh pun “terpaksa” berkata bohong. Hal itu di lakukan untuk melindungi seseorang yang sedang mengalami bahaya, yang hendak membunuhnya. Berkata bohong tersebut merupakan kejadian yang boleh di lakukan bila benar-benar darurat atau terpaksa.
Mungkin sama saja seperti sepasang suami istri yang baru menikah, ketika si istri memasak dan suaminya di suruh untuk mencoba masakan tersebut, sang suami pasti akan berkata bahwa masakan istrinya sangat enak dan lezat, walaupun tahu yang sebenarnya adalah tidak enak, seperti keasinan atau kemanisan ataupun tidak berasa. Hal tersebut boleh dilakukan semata-mata untuk menyenangkan hati sang istrinya.
Begitulah Rosululloh bertindak dan berperilaku, semata-mata hanya untuk memberikan manfaat bagi umatnya. Jadi berkata bohong di perbolehkan jika ada dalam keadaan terpaksa, darurat dan sebagainya. Tapi jangan di gunakan untuk sesuatu hal yang tidak perlu, apalagi berkata bohong di jadikan suatu kebiasaan.
ada sebuah cerita tentang "hasud".. ini tentang tiga orang yang mendapatkan gundukan emas di sebuah gua terpencil... ketiga orang itu sepakat untuk membagi 3 gundukan emas tadi secara adil... setelah beberapa jam, hari mereka tidak keluar dari gua tersebut... rasa laparpun tidak dapat mereka tahan... maka dengan perjanjian, ketiga orang tersebut membuat kesepakatab untuk memecahkan rasa lapar mereka... maka si-A kebagian tugas untuk mencari makanan... sedangkan si-B dan si-C bertugas untuk menjaga gundukan emas tersebut... ketika si-A pergi untuk mencari makanan, maka timbul pikiran jahat dari si-B dan si-C untuk menjebak si-A dan menguasai emas si-A... mereka berencana untuk membunuh si-A sepulang dari mencari makanan, yaitu dengan cara mencekik hingga mati ketika si-A datang nanti tanpa ada basa-basi lagi... rencana tersebut disetujui si-B dan si-C, sehingga nantinya emas tersebut tinggal di bagi dua... di lain tempat si-A ada kekhawatiran dan kecurigaan kepada si-B dan si-C, jangan-jangan emasnya di bawa lari mereka... sehingga timbul juga niat jahat dari si-A untuk merebut jatah emas si-B dan si-C... maka dengan "cerdiknya", si-A meracuni makanan untuk si-B dan si-C, dan berharap agar rencananya berhasil sehingga emas yang ada nanti menjadi miliknya semuanya... ketika si-A datang membawa makanan, tanpa basa-basipun si-B dan si-C langsung mengeroyok dan mencekik si-A hingga tewas... setelah yakin si-A tewas, si-B dan si-C dengan gembira mendapatkan jatah emas si-A, hingga emas tersebut hanya untuk mereka berdua... sebelum mereka bergegas pergi dan meninggalkan mayat si-A, si-B dan si-C langsung memakan makanan yang di bawa si-A dengan lahapnya, karena saking laparnya, mereka pun tidak curiga sama sekali dengan apa yang telah dilakukan oleh si=A terhadap makanannya tersebut... akhirnya, si-B dan si-C pun tewas karena keracunan dari makanan yang di bawa oleh si-A...
dari kisah tersebut...emas...atau harta apapun yang di dapat dengan tiba-tiba, jika memiliki rasa "hasud" untuk menguasai dan berbuat jahat maka yang terjadi adalah...
semoga Alloh SWT selalu melindungi kita dari sifat hasud, dengki, serakah dan penyakit hati lainnya...
Dua Juni 2009, pertarungan meraih simpati masyarakat untuk memilih pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dalam Pilpres 2009 ini sudah di mulai. Tiga pasang calon yang sudah di tetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menjadi capres dan cawapres Pemilu 2009 adalah:
1. Megawati Soekarnoputeri-Prabowo Soebianto.
2. Soesilo Bambang Yudhoyono-Boediono.
3. Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto.
Ketiga calon tersebut di usung oleh partai2 pendukungnya. Pasangan pertama di usung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerindra. Pasangan kedua di usung oleh Partai Demokrat dan 24 Partai pendukung lainnya. Dan pasangan yang ketiga di usung oleh Partai Golkar dan Partai Hanura.
Mengenai jumlah kekayaan capres dan cawapres, mereka sudah menyerahkan kepada KPU untuk dapat di tindaklanjuti oleh KPK untuk mengklarifikasi laporan kekayaan tersebut. Untuk pasangan capres-cawapres Megawati Soekarnoputeri-Prabowo Subianto, kekayaan Megawati yang di laporkan adalah mencapai Rp.256.447.223.594, sedangkan untuk Prabowo Rp.1.579.376.223.359 dan 7.572.916 dollar AS. Pasangan capres-cawapres SBY-Boediono, laporan kekayaan SBY mencapai Rp.6.848.049.611 dan 246.389 dollar AS, sedangkan untuk Boediono mencapai Rp.22.067.815.019 dan 15.000 dollar AS. Untuk pasangan capres-cawapres JK-Wiranto, laporan kekayaan JK mencapai Rp.314.530.794.307 dan 25.668 dollar AS, sedangkan untuk Wiranto sebesar Rp.81.748.591.938 dan 378.625 dollar AS. (Sumber: KPU)
Mengenai dana kampanye pun, ketiga pasangan capres dan cawapres juga sudah memberikan besarannya. Yaitu untuk pasangan Mega-Prabowo saldo awal untuk dana kampanye mereka adalah sebesar Rp.15.005.000.000. Pasangan SBY-Boediono mengumumkan dana awal kampanyenya sebesar Rp.20.015.000.000, dan pasangan JK-Wiranto sebesar Rp.10.000.000.000. (Sumber: KPU)
Waktu kampanye pun di bagi dalam dua tahap, yaitu kampanye tanpa pengerahan massa mulai pada tanggal 2-10 Juni dan kampanye dengan melibatkan massa dalam jumlah besar pada 11 Juni-4 Juli. Aturan tersebut berlaku bagi capres-cawapres, tim kampanye capres-cawapres maupun petugas kampanye.
Pertarungan kampanye pilpres pun sudah di mulai. Dengan “manuver-manuver” yang di lakukan untuk meraih simpati masyarakat untuk memilih mereka dalam Pilpres Juli mendatang. Sikap kampanye yang “santun” ataukah kampanye “hitam” mungkin saja akan terjadi untuk bisa “saling menjatuhkan” image lawan. Mungkin saja dengan melihat latar belakang dari masing-masing capres-cawapres beserta kelemahan-kelamahan yang mengiringi kehidupan dan perjalanan hidup capres-cawapres, yang bisa di jadikan “menu utama” mereka untuk berkampanye.
Siapapun berhak untuk melakukan hal yang terbaik dan maksimal untuk mendapatkan simpati masyrakat untuk bersedia memilih pasangan yang mereka usung. Namun akan lebih baik lagi jika semua hal itu di lakukan dengan baik, santun dan bermartabat. Sehingga rakyat dapat menilai mana pasangan capres-cawapres yang dapat meraih hati rakyat hasil dari kampanye yang mereka lakukan selama masa kampanye Pilpres tersebut.
Ada beberapa hal (menurut pendapat pribadi) mengenai kampanye Pilpres tahun 2009 yang “perlu di perhatikan” oleh pasangan capres-cawapres untuk “kemenangan” dalam Pilpres 2009 nanti:
1. Menyiapkan tim kampanye yang kuat dan berakhlak baik.
2. Memaksimalkan dana yang ada dengan melakukan kampanye yang sebaik-baiknya, tepat sasaran dan “bermartabat”.
3. Jauhkan sikap kampanye yang bersifat menjatuhkan lawan, yang menghalalkan berbagai macam cara dan cara-cara kekerasan lainnya.
4. Manfaatkan waktu yang di peroleh untuk berkampanye ketika diadakan kegiatan yang di organisir untuk kampanye, seperti debat terbuka dan sebagainya.
5. Jangan kampanye yang menjanjikan “angin surga”.
6. Jangan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dalam berdebat atau berkampanye.
7. Sentimen agama maupun ras harus di hindarkan.
8. No Money Politics.
9. Pergunakanlah kata-kata yang santun dalam berkampanye, baik dalam beriklan di media cetak atau elektronik maupun kampanye terbuka.
10. Mobilisasikan massa yang santun ketika melakukan kampanye terbuka.
11. Bekerja maksimal untuk meraih hasil yang maksimal juga.
12. Andaikan terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, tepatilah apa yang telah terlanjur mereka janjikan.
13. Bersikap legowo bila hasil akhir pilpres sudah di tentukan, etc.
Bagaimana dengan anda? Apakah anda sudah siap dengan pilihannya? Apakah anda akan terlibat dalam kampanye Pilpres 2009? Apakah anda akan bersedia menerima kemenangan ataupun kekalahan? Pergunakanlah kesempatan ini untuk kebaikan dan kemashlahatan umat dan bangsa Indonesia, sehingga kita benar-benar menjadi bangsa yang bermartabat.
Semua tanah Palestina, khususnya Yerussalem, adalah suci untuk orang-orang Yahudi, Nasrani dan Muslim. Alasannya adalah karena sebagian besar nabi-nabi Alloh yang di utus untuk memperingatkan manusia menghabiskan sebagian atau seluruh kehidupannya di tanah ini.
Menurut studi sejarah yang di dasarkan atas penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, Nabi Ibrahim, putranya, dan sejumlah kecil manusia yang mengikutinya pertama kali pindah ke Palestina, yang di kenal kemudian sebagai Kanaan, pada abad ke 19 SM. Tafsir Al-Qur’an menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim (Abraham) AS, di perkirakan tinggal di daerah Palestina yang di kenal saat ini sebagai Al-Khalil (Hebron), tinggal di sana bersama Nabi Luth (Lot) AS. Al-Qur’an menyebutkan perpindahan ini sebagai berikut:
Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatkanlah bagi Ibrahim, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang telah memberkahinya untuk sekalian manusia.” (QS. 21: 69-71)
Daerah ini, yang di gambarkan sebagai “tanah yang telah Kami berkati”, di terangkan dalam berbagai keterangan Al-Qur’an yang mengacu kepada tanah Palestina.
Sebelum Ibrahim AS, bangsa Kanaan (Palestina) tadinya adalah penyembah berhala. Ibrahim meyakinkan kepada mereka untuk meninggalkan kekafirannya dan mengakui satu Tuhan. Menurut sumber-sumber sejarah, beliau mendirikan rumah untuk istrinya Hajar dan putranya Ismail (Ishmael) di Mekah dan sekitarnya., sementara istrinya yang lain, Sarah, dan putera keduanya Ishaq (Isaac) tetap di Kanaan. Seperti itu pulalah, Al-Qur’an menyebutkan bahwa nabi Ibrahim mendirikan rumah untuk beberapa puteranya di sekitar Baitul Haram, yang menurut penjelasan Al-Qur’an bertempat di lembah Mekah.
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitulloh) yang di hormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. 14: 37)
Akan tetapi, putera Ishaq, Ya’kub (Jacob) pindah ke Mesir selama puteranya Yusuf (Joseph) di beri tugas kenegaraan. (Putera-putera Ya’kub juga di kenang sebagai “Bani Israil”). Setelah di bebaskannya Yusuf dari penjara dan penunjukan dirinya sebagai kepala bendahara Mesir, Bani Israil hidup dengan damai dan aman di Mesir.
Suatu kali, keadaan mereka berubah setelah berlalu waktu, dan Firaun memperlakukan mereka dengan kekejaman yang dahsyat. Alloh menjadikan Musa (Moses) nabinya selama masa itu dan memerintahkannya untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Ia pergi ke Firaun, memintanya untuk meninggalkan keyakinan kafirnya dan menyerahkan diri kepada Alloh, dan membebaskan Bani Israil yang di sebut juga orang-orang Israel. Namun Firaun seorang tiran yang kejam dan bengis. Ia memperbudak Bani Israil, memperkerjakan mereka hingga hampir mati, dan kemudian memerintahkan di bunuhnya anak-anak lelaki. Meneruskan kekejamannya, ia memberi tanggapan penuh kebencian kepada Musa. Untuk mencegah pengikutnya-pengikutnya, yang sebenarnya adalah tukang-tukang sihirnya dan mempercayai Musa, ia mengancam memenggal tangan dan kakinya secara bersilangan.
Meskipun Firaun menolak permintaannya, Musa AS dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat Alloh, sekitar tahun 1250 SM. Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan Timur Kanaan. Dalam Al-Qur’an, Musa memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Kanaan.
“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah di tentukan Alloh bagimu, dan kanganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (QS. 5: 21)
Setelah Musa AS, bangsa Israel tetap berdiam di Kanaan (Palestina). Menurut ahli sejarah, nabi Daud (David) menjadi raja Israel dan membangun sebuah kerajaan berpengaruh. Selama pemerintahan puteranya Nabi Sulaiman (Solomon), batas-batas Israel di perluas dari Sungai Nil di selatan hingga utara Sungai Eufrat di Negara Syiria sekarang. Ini adalah sebuah masa gemilang bagi kerajaan Israel dalam banyak bidang, terutama arsitektur. Di Yerusalem, Nabi Sulaiman membangun sebuah istana dan biara yang luar biasa. Setelah wafatnya, Alloh mengutus banyak lagi nabi kepada Bani Israil meskipun dalam banyak hal mereka tidak mendengarkan dan merela mengkhianati Alloh.
“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah, lalu Alloh menurunkan ketenangan kepada Rosul-Nya dan kepada orang-orang mukmin dan Alloh mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 48: 26)
Karena kemerosotan akhlaknya, kerajaan Israel mulai memudar dan di tempati oleh berbagai orang-orang penyembah berhala, dan bangsa Israel, yang juga di kenal sebagai Yahudi pada saat itu, di perbudak kembali. Ketika Palestina di kuasai oleh Kerajaan Romawi, Nabi Isa (Jesus) AS datang dan sekali lagi mengajak Bani Israil untuk meninggalkan kesombongannya, takhayulnya, dan pengkhianatannya, dan hidup menurut agama Alloh. Sangat sedikit orang Yahudi yang meyakininya: sebagian besar Bani Israil mengingkarinya. Dan seperti yang di sebutkan di dalam Al-Qur’an, mereka itu yang: “telah di laknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Mariyam. Yang demikian itu, di sebabkan mereka durhaka dan selalau melampaui batas.” (QS. 5: 78) Setelah berlalunya waktu, Alloh nmempertemukan orang-orang Yahudi dengan bangsa Romawi, yang mengusir mereka semua keluar dari Palestina.
Pendapat dasar Zionis Israel bahwa “Palestina adalah tanah Alloh yang di janjikan untuk orang-orang Yahudi” tidaklah benar. Zionisme menerjamahkan pandangan tentang “orang-orang terpilih” dan memiliki “tanah terjanji”. Padahal, ras tidak ada nilainya dalam pandangan Alloh, karena yang penting adalah ketaqwaan dan keimanan seseorang. Dalam pandangan Alloh, orang-orang terpilih adalah yang tetap mengikuti agama Ibrahim, tanpa memandang rasnya.
Al-Qur’an juga menekankan kenyataan ini. Alloh menyatakan bahwa warisan Ibrahim bukanlah orang-orang Yahudi yang bangga sebagai “anak-anak Ibrahim”, melainkan orang-orang Islam yang hidup menurut agama ini.
“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Alloh adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (QS. 3: 68)
Berpikir positif itu sangat penting untuk kita. Dalam buku The Secret karya Rhonda Byrne diungkapkan bahwa pikiran positif menjadi dasar utama dalam mencapai kesuksesan. Malah, ketika tubuh kita sakit, berpikir positif mampu meminimalisir penyakit itu hinggake taraf penyembuhan.
Penelitian yang di lakukan oleh Harvard University membuktikan bahwa kesuksesan seseorang itu 85% di tentukan oleh sikap, dan 15% sisanya di tentukan oleh keterampilan dan intelektualitas. Sikap itu sendiri di bentuk oleh pikiran. Dengan kata lain, 85% kesuksesan dan kegagalan itu di tentukan oleh kualitas pikiran. Begitupun juga, kesuksesan untuk dekat dengan Alloh sangat di pengaruhi oleh sejauh mana seseorang berpikir positif tentang Alloh.
Nabi Muhammad sendiri sangat menganjurkan umatnya untuk selalu berpikir positif. Ketika Nabi Muhammad berdakwah kepada para kafilah arab di Mekkah untuk pertama kalinya, Nabi di caci maki dan di sakiti, bahkan mukanya di lumuri pasir. Oleh malaikat, Nabi di suruh berdoa kepada Alloh agar mereka di binasakan seperti kaum Nabi-nabi sebelumnya. Nabi bangkit dari duduknya dan berdoa (berdoa yang positif): “Ya Alloh, berilah petunjuk kepada kaumku. Sesunggguhnya (mereka melakukan ini kepadaku) hanya mereka tidak tahu. Ya Alloh, tolonglah aku, agar mereka bisa menyambut ajakan untuk taat kepada-Mu.” Doa Nabi tersebut kala itu seperti terkutip dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah karya Abu ‘Abdillah Al-Maqdisi.
Benar saja. Tidak lama kemudian mereka masuk Islam dan menjadi pengikut setia Nabi. Dalam doa Nabi tersebut merupakan kata-kata yang terucap dari orang yang selalu berpikir positif. Demikian Nabi mengajarkan kita agar selalu berpikir positif. Tidak saja membuat tubuh kita prima, tetapi juga mendatangkan hal-hal baik yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Nabi juga pernah bersabda dalam Hadits Qudsi, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku.” (HR. Muslim) Artinya, Alloh menitahkan kebaikan dan keburukan sesuai dengan apa yang di pikirkan hamba-Nya. Jika kita selalu berdoa minta kebaikan kepada Alloh, maka Dia pun akan mendatangkannya dan begitupun sebaliknya.
Coba juga renungi kisah ini! Seorang muslimah Jepang (muallafah) berusia lebih dari 50 tahun, sudah lancar membaca Al-Qur’an di sertai tajwid dengan sangat baik hanya dalam waktu 3 tahun. Padahal, pengucapan lafal Arab merupakan sesuatu yang sangat sulit dilakukan untuk orang yang baru memeluk Islam. Tapi, ia bisa melakukannya. Itu dikarenakan ia yakin dan berpikir positif akan kemampuannya. Karena itu hilangkanlah kata-kata, “Saya merasa tidak akan sanggup melewati ini, masalahnya trlalu berat, kerusakan yang terjadi akan begitu banyak, saya akan gagal dan sebagainya.”
Jadi, betapa dahsyat berpikir positif itu! Tidak saja membuat tubuh kita sehat dan prima, tapi juga bisa mendatangkan kesuksesan dalam kehidupan kita. Semoga. Bagaimana dengan kita?
Tiga bulan lebih media elektronik dan media cetak di Indonesia “di cekoki” dengan pemberitaan-pemberitaan tentang Manohara yang menjadi menu utama. Di satu sisi kita bisa melihat bagaimana perjuangan seorang ibu yang bernama Deasy Fajriani untuk berusaha bertemu dengan anaknya, Manohara Odelia Pinot, yang menurut ceritanya mengalami “penyiksaan” fisik maupun psikis oleh suaminya sendiri yang bernama Tengku Muhammad Fachry, suami Manohara Odelia Pinot, yang merupakan Pangeran dari Kerajaan Kelantan Malaysia. Minggu, 31 Mei lalu, Manohara berhasil “melarikan diri” dari “pelukan” suamimya dan bertemu dengan sang ibu tercinta melalui “perjuangan” yang katanya sangat “heroik”. Sekarang Manohara sudah berada di Indonesia dan menjadi seorang bintang yang super sibuk dengan beragam upaya “pembenaran” atas apa yang Manohara alami selama menjadi istri seorang Pangeran Kerajaan Kelantan sana. Setelah beberapa hari di Indonesia, Manohara dan ibunya sibuk menjadi bintang tamu di berbagai stasiun televisi untuk memberikan klarifikasi dan pembenaran akan apa yang dia alami selama ini. Mereka membenarkan apa yang selama ini ada dalam pemberitaan adalah benar adanya. Dengan bukti-bukti yang ada, mereka siap menempuh jalur hukum atas apa yang Manohara alami. Salah satunya adalah dengan menggugat cerai suaminya dan juga akan “mempidanakan” kekerasan yang di alami Manohara. Masalah semakin rumit setelah perwakilan kerajaan Kelantan seakan tidak rela melepaskan Manohara. Di lain pihak, sikap Manohara yang belum juga melakukan visum atas tindakan kekerasan fisik yang pernah di alaminya, belum juga dilakukan. Sehingga timbul pertanyaan dari sebagian besar masyarakat apakah kekerasan fisik yang selama ini Manohara alami apakah benar adanya ataukah hanya bohong belaka. Kalaupun benar, masyarakat menunggu bukti hasil visum yang bisa menguatkan pernyataan Manohara selama ini. Masyarakat tinggal menunggu dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya dari babak-babak perseteruan antara Manohara dan pihak Kerajaan Kelantan. Pemerintah Indonesia dan pemerintah Malaysia juga menjadi ikut terlibat dengan adanya permasalahan ini. Apa yang dapat kita ambil dari “kisah nyata” ini? Sampai saat ini saya baru bisa mengambil hikmah sebagai berikut: 1. Perjuangan seorang ibu yang terus-menerus berusaha menemukan anaknya dan akan terus selalu membahagiakan anaknya. 2. Anggapan orangtua tentang dengan harta dan kedudukan dapat mengangkat derajat dan membahagiakan seseorang seharusnya dapat di pertimbangkan kembali. Karena tidak selamanya harta dan kedudukan dapat membahagiakan seseorang. 3. Jangan terlalu silau dengan “surga dunia” sesaat. 4. Setiap permasalahan pasti ada jawabannya. Jadi jangan terlalu berlebihan dalam menanggapi sesuatu hal. 5. Keharmonisan dalam kehidupan berumah tangga adalah hal utama yang ingin di capai oleh setiap pasangan yang telah berkeluarga. Jadi berusahalah untuk mempertahankan kehidupan rumah tangga dengan sebaik-baiknya, dengan saling memahami apa yang sudah menjadi hak dan kewajiban dari masing-masing pasangan dan anggota rumah tangga. 6. Dalam kehidupan berumah tangga, suami, sampai kapanpun adalah seorang imam dan kepala rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga yang biasanya di lakukan oleh pihak suami kepada istrinya ataupun anaknya harus di hindari. Terapkanlah kaidah kehidupan rumah tangga Islami, seperti dalam kehidupan rumah tangga Rosululloh SAW. 7. Jangan menganggap dirinyalah yang paling benar, karena kebenaran yang hakiki hanyalah milik Alloh SWT. 8. Pemerintah, sampai kapanpun harus melindungi segenap warga negaranya yang mengalamai tindakan kekerasan, apalagi warga negara yang berada di luar negeri. Jadi jalur diplomasi yang selama ini di katakan sebagian orang kurang baik, harus lebih di perbaiki lagi guna melindungi dan memberikan bantuan kepada setiap warga negaranya yang berada di luar negeri. Kinerja diplomat Indonesia di KBRI-KBRI juga harus lebih proaktif dalam menangani permasalahan yang menyangkut Negara Indonesia.
Shafiyyah binti Huyay adalah sosok putri seorang musuh bebuyutan Islam yang kemudian masuk Islam dan menjadi salah seorang Ummahatul Mukminin. Ia adalah putri Huyay bin Akhtab, salah satu pemimpin Yahudi dari Bani Nadhir yang paling gencar memusuhi Rosululloh SAW.
Ketika Rosululloh SAW memilih Shafiyyah untuk diri beliau sendiri, maka beliau menawarkan dua pilihan kepada Shafiyyah pada saat ia menghadap beliau. Terlebih dahulu Nabi SAW berkata kepadanya: “Ayahmu adalah seorang Yahudi yang sangat keras memusuhiku sampai Alloh SWT mencabut nyawanya.”
Shafiyyah menjawab: “Ya Rosululloh, sesungguhnya Alloh telah berfirman dalam Kitab-Nya: ‘Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.’” (QS. Al-An’aam: 164)
Nabi SAW kemudian bersabda: “Pilihlah; bila engkau memilih Islam, maka engkau akan kujadikan istriku; namun jika engkau tetap memilih agama Yahudi, maka engkau akan kumerdekakan hingga engkau bisa bertemu kembali dengan kaummu.”
Shafiyyah lantas menjawab: “Ya Rosululloh, aku sangat mencintai Islam dan aku telah membenarkan kenabian Anda sebelum Anda mengajakku saat aku berada dalam kendaraan Anda. Terhadap kaum Yahudi, aku tidak mempunyai keinginan untuk kembali. Di sana aku juga tidak mempunyai ayah atau saudara! Anda telah menawarkan dua pilihan kepadaku untuk memilih kufur atau masuk Islam. Sungguh Alloh dan Rosul-Nya lebih aku cintai daripada aku dimerdekakan dan kembali kepada kaumku.”
Setelah peristiwa itu Rosululloh SAW tidak pernah menyebut ayahnya meskipun satu kata. Shafiyyah akhirnya resmi masuk Islam, kemudian Rosululloh memerdekakannya dan menikahinya. Kemerdekaan Shafiyyah yang beliau jadikan sebagai maskawinnya. Ketika beliau melihat ada bekas berwarna kebiruan di wajah Shafiyyah di dekat dua matanya, beliau bertanya: “Apa ini?”
Shafiyyah menjawab: “Sewaktu aku di nikahi oleh suamiku, Kinanah bin Ar-Rabi’, aku pernah bermimpi melihat ada rembulan yang jatuh ke pangkuanku. Mimpi itu aku ceritakan kepada suamiku, tetapi ia malah menamparku sambil berkata: ‘Ini hanyalah lamunanmu saja bahwa kamu ingin di nikahi raja Hijaz, Muhammad!’ Yang engkau lihat di mukaku adalah bekas tamparannya.”
Ketika mereka sampai di pinggiran kota Madinah, kaum wanita tidak segera memasuki rumah mereka, karena ingin menyambut Shafiyyah. Mereka ingin mengucapkan selamat kepada Shafiyyah. Di antara wanita-wanita yang menyambut itu ada ‘Aisyah, Hafshah, Zainab binti Jahsy dan Juwairiyyah. Mereka ingin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sang pengantin baru itu di mata Nabi SAW. Ketika ‘Aisyah keluar dan telah melihat Shafiyyah, Rosululloh lalu bertanya kepadanya: “Bagaimana pendapatmu, wahai Syuqairo, (Syuqairo adalah salah satu panggilan Rosululloh untuk ‘Aisyah)?”
‘Aisyah menjawab dengan ketus: “Aku baru saja melihat seorang wanita Yahudi, putri orang Yahudi.”
Nabi kemudian berkata kepadanya: “Hai, jangan berkata begitu. Dia telah masuk Islam dan keislamannya sudah cukup bagus.”
Shafiyyah menempati sebuah kamar di samping kamar para istri Nabi lainnya. Dia bergabung dengan mereka di hati sang suami, Nabi SAW tercinta. Namun dengan kecerdasan yang dimilikinya, ia berusaha untuk mendapat simpati ‘Aisyah, Hafshah dan yang lainnya. Semua ini dilakukan guna memelihara silaturrahim di antara mereka dan juga atas dorongan kasih sayangnya kepada Fathimah Az-Zahra, putri Rosululloh SAW.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Al-Hakim. Shafiyyah berkata: “Suatu ketika Rosululloh SAW masuk menghampiriku sewaktu aku sedang menangis. Beliau lantas bertanya: ‘Mengapa engkau menangis?’ Aku menjawab: ‘Aku mendengar bahwa Hafshah dan ‘Aisyah mengejekku dan keduanya berkata: ‘Kami lebih baik daripada Shafiyyah, sebab kami adalah putri paman Rosululloh SAW sekaligus sebagai istri beliau, ‘Nabi SAW bersabda: “Kenapa engkau tidak berkata saja kepada mereka: ‘Bagaimana kalian bisa lebih baik daripadaku, sedang ayahku adalah Nabi Harun, pamanku Nabi Musa, dan suamiku Nabi Muhammad SAW?!’”
Sepeninggal Rosululloh, Shafiyyah tetap hidup sebagai sosok wanita yang beriman dan ahli ibadah, sebagaimana keadaannya ketika ia masih bersama Nabi. Di kamarnya pernah berkumpul beberapa orang membaca Al-Qur’an, kemudian mereka bersujud, lalu membaca Al-Qur’an lagi. Shafiyyah lantas bertanya kepada mereka: “Ini baru sujud dan bacaan Al-Qur’an, lantas mana tangisnya?”
Shafiyyah wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan tahun 52 Hijriyah. Jenajahnya di makamkan di Baqi’. Semoga Alloh SWT meridhoi dan membuatnya berhati ridho.